HOME - Teaching

Mengapa Kita Harus Berdoa dan Berpuasa?

2016-04-02 12:04:48
579

Pada dasarnya sebenarnya pahamkah kita tentang doa atau puasa? Doa yang kita tahu selama ini adalah hubungan kita dengan Tuhan, berkomunikasi dengan Dia.

Puasa? Apa arti puasa? Menahan hawa nafsu baik makanan yang kita makan atau pun emosi dalam jiwa kita.

Arti Doa dan Puasa

Firman Allah mengajarkan, bahwa kita manusia adalah satu pribadi dengan tiga unsur, yaitu roh, jiwa dam tubuh (I Tes. 5:23). Para ahli menyebutkan "Trikotomi". Jadi, sasaran puasa kita seharusnya juga ada tiga dan harus jelas, bila anda / saya berpuasa, untuk sasaran yang mana.

1. Puasa Untuk Jasmani

Ada saatnya, kita berpuasa terutama adalah untuk kepen-tingan tubuh. Bentuk ini disebut 'diet' (bukan di-eat!) Mengapa? Sebab tubuh kita adalah wadah/tempat bagi roh dan jiwa. Lebih dari itu. 'rumah' bagi Roh Allah (I Korintus 3:16).

Bila tubuh kita sakit, maka seluruh kehidupan kita terganggu (Ibadah, doa, bekerja, belajar, dsb). Jadi ikut tergendala!

Dengan bertambah majunya Ilmu Pengetahuan, maka fungsi tubuh yang sehat makin diutamakan. Bahkan sampai di pelosok/pedalamanpun saat ini orang sudah mendengar istilah Kolesterol, Hipertensi, Diabetes, Jantung Sehat, Aerobik, dsb.

Bahkan, pepatah para olahragawan mengatakan, bahwa : "Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat."

Entah sampai di mana kadar kebenaran istilah ini. Tapi se-tidaknya, istilah ini lahir dengan tujuan yang baik. Kemudian muncul sebuah motto : "Memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat." Hingga akhirnya, orang bukan hanya memikirkan tentang 'makan enak', tapi juga kalau perlu menghindari 'makan enak' (puasa), demi kesehatan fisik.

2. Puasa Untuk Jiwa

Kita mengenal beberapa filsuf kondang Yunani. Salah satu di antaranya bernama Sokrates. Sokrates dikenal oleh sahabat-saha-batnya sebagai seorang yang selektif dalam menerima berita. Ia hanya mau yang benar, yang baik dan yang bermanfat. Akhirnya, teman-temannya itu mencetuskan suatu istilah 'Saringan Sokrates'. Namun kemudian, kami menemukan dalam Firman Tuhan sesuatu yang melebih ’Saringan Sokrates’ itu (Filipi 4:8).

Para ahli menyebutkan, bahwa jiwa manusia itu berbicara tentang pikiran, perasaan dan kemauan / kehendak. Beberapa yang lain memakai istilah yang lebih 'Elite' : Intelgensi, Memori, Emosi dan Mentalitas. Jadi, apa yang dimaksud dengan 'puasa jiwani itu'? Watchman Nee memakai istilah 'Disiplin Mental'. Maksudnya, puasa jiwani ialah :

Belajar mengekang pikiran.

Pikiran jangan dibiarkan terlalu lelah memikirkan hal-hal yang negatif dan juga jangan terlalu ’rakus’ – hingga hal-hal yang sebenarnya tak patut dipikirkan / merugikan / mengotori, dimasukkan semua dalam pikiran kita. Akhirnya, pikiran kita menjadi 'sakit' – karena kena 'polusi' atau 'terkontaminasi'.

1. Prinsip yang sama juga berlaku untuk mendisiplinkan perasaan (tersinggung, kecewa, dst).

2. Juga sama untuk mengekang kemauan yang seringkali tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Bacalah : Mzm. 116:5-8 ; Ams. 27:9 ; Mzm. 34:18,19.

  3. Puasa Untuk Roh

Secara praktis, yang dimaksud puasa untuk rohani adalah mengurangi / menghentikan semua kegiatan aktivitas yang lain, demi kemajuan / kekuatan rohani kita.

Contoh :

- Tinggalkan pesawat TV (walau acaranya sangat menarik), lalu masuklah kamar untuk berdoa. Lipatlah surat kabar / majalah anda, lalu bacalah Alkitab.

- Batalkan rencana untuk 'cuci mata' di Shoping Centre dan pergilah ke acara 'praise and worship'. Ada orang Kristen yang berpuasa dalam arti tidak makan dan tidak minum sejak matahari terbit sampai matahari terbenam. Ia menjadi begitu bangga akan ’prestasi’nya itu dan menjadi sangat 'sukacita'.

Namun, ternyata yang rakus tetap rakus yang kikir tetap kikir dan yang pemarah tetap pemarah! Puasa seperti ini kelihatan sepintas sukses secara jasmani, tapi gagal untuk meningkatkan mutu / kondisi rohaninya! Puasa yang berhasil adalah : Melalui doa-doa puasa kita, yang kikir menjadi suka mem-beri, yang pemarah jadi sabar dan yang pendendam dapat memberi ampun.

Jangan sampai kita puas dengan 'prestasi' lita tidak makan dan tidak minum sepanjang hari, tapi tidak terjadi perubahan apa-pun dalam karakteristik kita. (Renungkan : Mzm. 73:1-14, 16-24).

 

Puasa Harus Dengan Doa

- Doa tanpa puasa boleh / baik.

- Tapi puasa tanpa doa tidak lebih dari 'diet'.

Dari sisi lain, puasa tanpa doa, sampai pada 'satu titik', akan menjadi bahaya bagi roh / jiwa kita.

- Doa merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan DIA (TUHAN) yang kita harapkan / kita imani, sedang puasa merupakan manivestasi dari kesungguhan doa kita.

 

Kuasa Doa dan Puasa

Doa dan puasa menjadi sangat penting dalam kehidupan Kristen karena memiliki kuasa yang luar biasa, diantaranya adalah:

- Sebagai manivestasi dari pertobatan (Yunus 3:6-9), perwujudan dari pertobatan, bukti dari rasa takut kepada Allah, bentuk permohonan ampun.

- Sebagai jalan untuk meminta pertolongan dari Tuhan (Ester 4: 15-17)

- Sebagai cara untuk mengekang hawa nafsu (Amsal 23: 1-3)

- Sebagai cara untuk mendapatkan petunjukkan Tuhan (Kisah Para Rasul 13: 2-3)

- Sebagai pengendali amarah (Mazmur 35: 11-14)

- Sebagai cara untuk mendapatkan kekuatan dan kemampuan dari Tuhan dalam menghadapi masalah, tugas berat atau meningkatkan kerohanian (Matius 17:19-21)

- Untuk mencari hadirat Tuhan (Lukas 5: 33-35; Wahyu 3: 20)

Jadi, puasa yang disertai doa, besar kuasanya membantu kita dalam berbagai hal, secara jasmani dan rohani. Mari perdalam kembali tujuan dan hasil dari doa dan puasa. - Ully Retno Simanullang